Kamis, 08 Desember 2011

Hanya Sebuah Gambar Yang Tak Berjudul

Di sini, di dalam relung hati ini ada sebuah tumpukan gambar yang telah ku selesaikan berhari-hari setelah kau datang dan pergi untuk mengucapkan selamat tinggal.
Aku menyebutnya gambar meskipun bukan berbentuk gambar, hanya ilusi dan angan-angan, tidak nampak, tidak dicetak, dan bahkan tidak berjudul. Aku tidak berani memberikan alasan yang jelas karna aku tidak memiliki alasan untuk merangkai setiap gambar di setiap hariku. Dan aku tidak berani merangkai gambar ini hingga tamat karna aku belum mau berimajinasi melepas tanganmu dan aku belum puas dengan ucapan selamat tinggal yang sudah jelas kau ucapkan beberapa waktu yang lalu. 
Tapi aku akan tetap belajar merangkai gambar ini hingga tamat, bukan tanpa alasan, karena momen saat kehilangan menjadi sebuah gambar sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata, butuh pemikiran untuk menyadari siapa tokohnya, seperti halnya butuh pemikiran untuk mencerna setiap lantunan kalimat bait demi bait yang aku tulis sesuai dengan suasana hari-hariku.

Namun, aku memintamu membawa sebagian gambar ini saat kau pergi. Gambar ini adalah melodi kenangan yang akan menemani menapaki jejak langkah di hidupmu yang baru. Berdasarkan pengalamanku, aku tau betapa panjang perjalanan yang akan kau lalui dan ku harap gambar ini akan berguna, setidaknya untuk mengalihkan perhatianmu dari suara berisik roda-roda, pengapnya udara, dan gangguan kecil yang membosankan selama perjalanan. Aku berharap dapat menyusutkan jarak dan waktu sehingga kita bisa lebih dekat satu sama lain.

Aku juga berharap sebagian gambar dariku akan membantumu mempersiapkan tantangan yang akan menantimu disana. Ada sesuatu dalam gambarku yang seharusnya kukatakan sendiri kepadamu. Namun aku pikir bahwa dengan fiksi dan ilusi, seseorang dapat lebih bebas mengatakan kebenaran. Mungkin di dalam fiksi dan ilusi, kebenaran bukanlah hal yang diperlukan atau diharapkan. Kau bisa menyamarkannya dengan mudah, jadi kau hanya akan mengenali dan memahaminya nanti, saat tokohnya telah lenyap dalam kegelapan.

Aku punya satu harapan lagi yang mungkin sangat egois, setelah kau mampu memahami gambar yang aku berikan, carikanlah judul yang tepat untuk gambar itu. Jika persoalan ini tak terselesaikan maka sebuah judul akan dipilihkan orang setelah aku mati. Dan aku sungguh membenci hal itu walaupun dalam kematian aku tidak bisa membenci apa pun. Maka dari itu, aku sangat menginginkan kau yang memberikan judul untuk gambarku.


Namun, itu nanti saja saat semua impian dan ambisimu sudah tercapai. Saat ini biarlah gambar ini tetap tak bermakna dan bernama karena mungkin itulah jalan yang paling baik.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar